Tulisan ini ditulis dan melintas dipikiran pada waktu sore pukul lima, angin sepoy menyelinap di gorden jendela ruang tamu rumah Ibu sambil menunggu paket buku Little House milik Roger Lea MacBride datang. Tulisan ini cukup singkat dan ditulisan ini saya sedang tidak menceriterakan tentang Kelinci Taman Wortel atau Kisah Pak Gunting melainkan tentang satu hal yang terpenting dalam berbagai lanskap kehidupan, terutama untuk diri sendiri.
Jadi, jujur sama diri sendiri itu perlu. Ketika kita salah dalam mengambil keputusan besar dalam hidup dan ngerasa sedih, tertekan ‘yaudah sedih aja’, ngerasa butuh marah yaudah marah aja’. Jangan menolak perasaan apapun yang ada dan terjadi pada diri kita serta membatasi diri dengan bilang ‘ngga kok, aku ngga papa, ngga sedih’ atau ‘ngga kok, itu ngga salah.’ As a human yaudah akuin aja kalau ternyata “the world is so big”, dan kamu bukan siapa-siapa. Ada banyak diluar sana yang memiliki permasalahan yang sama tetapi mereka survive and giving a hope to people who has the same problem as them. Jadi, kenapa diri sendiri tidak mencoba buat ngobrol secara intim dengan diri sendiri, cita, dan logika? Ketika berbagai macam suara atau pertanyaan “kenapa, mengapa” datang memenuhi isi kepala yang akhirnya bikin badan dan otak cape’ sendiri, yang akhirnya juga dari sekian banyak pertanyaan yang bercabang akan mengerucut menjadi satu pertanyan paling penting serta cukup membuat diri kita semakin yakin dengan apa tujuan hidup dan bagaimana cara mempertanggung jawabkan sebuah keputusan besar.
Kita mengakui bahwa sebenarnya ada banyak hal mudah dan sederhana untuk menghindari self harm, tetapi sangat sulit untuk dilakukan, yaitu; menerima realitanya dan berdamai dengan realita tersebut.
“Kalau kita bisa berdamai dengan realita, kita juga pasti bisa berdamai dengan diri sendiri, mengecah hal – hal yang merugikan diri kita.”
“Berdamai dengan diri sendiri juga sebagian dari akar kebahagiaan.”
Kata orang seperti itu…
Berdamai dengan diri sendiri bukan perkara mudah, untuk bergerak maju bukankah kita butuh perjuangan? Sedangkan perjuangan membutuhkan proses yang panjang dan memakan banyak waktu? Tidak ada yang instan ataupun jalan denga cepat, semua membutuhkan proses.
Mie instan yang katanya instan aja perlu perjuangan dan proses memasak untuk bisa dimakan. Sama halnya dengan berdamai dengan diri sendiri, usaha kecil yang dapat dilakukan adalah berdamai dengan diri sendiri secara perlahan – lahan.
Kalau ada rasa sakit dari satu hal yang kita atau orang lain sengaja, seperti halnya self harm dengan menyiksa otak dengan banyak sekali pertanyaan (overthinking) atau orang lain menyakiti diri kita tetapi ia atau diri kita sendiri sudah memberikan kata maaf dan diri kita sendiri pun masih susah untuk lupa dengan rasa sakitnya.
Realitanya “minta maaf doang kadang ngga bisa menghapus rasa sakit lho.”
Tapi hebatnya diri kita bisa bilang sama diri kita sendiri
“Kalau saya memilih untuk memaafkankan, sehingga saya bisa meneruskan hidup dengan nyaman, kemudian menegaskan kembali, bahwa diri saya harus benar – benar bahagia dan senang serta jauh dari hal – hal yang merugikan diri.”
Yogyakarta, 09 Juli 2018