Senin, 09 Juli 2018

Tulisan ini ditulis dan melintas dipikiran pada waktu sore pukul lima...

Tulisan ini ditulis dan melintas dipikiran pada waktu sore pukul lima, angin sepoy menyelinap di gorden jendela ruang tamu rumah Ibu sambil menunggu paket buku Little House milik Roger Lea MacBride datang. Tulisan ini cukup singkat dan ditulisan ini saya sedang tidak menceriterakan tentang Kelinci Taman Wortel atau Kisah Pak Gunting melainkan tentang satu hal yang terpenting dalam berbagai lanskap kehidupan, terutama untuk diri sendiri.
Jadi, jujur sama diri sendiri itu perlu. Ketika kita salah dalam mengambil keputusan besar dalam hidup dan ngerasa sedih, tertekan ‘yaudah sedih aja’, ngerasa butuh marah yaudah marah aja’. Jangan menolak perasaan apapun yang ada dan terjadi pada diri kita serta membatasi diri dengan bilang ‘ngga kok, aku ngga papa, ngga sedih’ atau ‘ngga kok, itu ngga salah.’  As a human yaudah akuin aja kalau ternyata “the world is so big”, dan kamu bukan siapa-siapa. Ada banyak diluar sana yang memiliki permasalahan yang sama tetapi mereka survive and giving a hope to people who has the same problem as them. Jadi, kenapa diri sendiri tidak mencoba buat ngobrol secara intim dengan diri sendiri, cita, dan logika? Ketika berbagai macam suara atau pertanyaan “kenapa, mengapa” datang memenuhi isi kepala yang akhirnya bikin badan dan otak cape’ sendiri, yang akhirnya juga dari sekian banyak pertanyaan yang bercabang akan mengerucut menjadi satu pertanyan paling penting serta cukup membuat diri kita semakin yakin dengan apa tujuan hidup dan bagaimana cara mempertanggung jawabkan sebuah keputusan besar.
Kita mengakui bahwa sebenarnya ada banyak hal mudah dan sederhana untuk menghindari self harm, tetapi sangat sulit untuk dilakukan, yaitu; menerima realitanya dan berdamai dengan realita tersebut.
“Kalau kita bisa berdamai dengan realita, kita juga pasti bisa berdamai dengan diri sendiri, mengecah hal – hal yang merugikan diri kita.”
“Berdamai dengan diri sendiri juga sebagian dari akar kebahagiaan.”
Kata orang seperti itu…
Berdamai dengan diri sendiri bukan perkara mudah, untuk bergerak maju bukankah kita butuh perjuangan? Sedangkan perjuangan membutuhkan proses yang panjang dan memakan banyak waktu? Tidak ada yang instan ataupun jalan denga cepat, semua membutuhkan proses.
Mie instan yang katanya instan aja perlu perjuangan dan proses memasak untuk bisa dimakan. Sama halnya dengan berdamai dengan diri sendiri, usaha kecil yang dapat dilakukan adalah berdamai dengan diri sendiri secara perlahan – lahan.
Kalau ada rasa sakit dari satu hal yang kita atau orang lain sengaja, seperti halnya self harm dengan menyiksa otak dengan banyak sekali pertanyaan (overthinking) atau orang lain menyakiti diri kita tetapi ia atau diri kita sendiri sudah memberikan kata maaf dan diri kita sendiri pun masih susah untuk lupa dengan rasa sakitnya.
Realitanya “minta maaf doang kadang ngga bisa menghapus rasa sakit lho.”
Tapi hebatnya diri kita bisa bilang sama diri kita sendiri
“Kalau saya memilih untuk memaafkankan, sehingga saya bisa meneruskan hidup dengan nyaman, kemudian menegaskan kembali, bahwa diri saya harus benar – benar bahagia dan senang serta jauh dari hal – hal yang merugikan diri.”
Yogyakarta, 09 Juli 2018 

Minggu, 25 Maret 2018

Gadis Chamomile





Di kerajaan Ros tinggalah Raja Ros dan permaisurinya di istana yang indah. Sehari-hari mereka merasa kesepian karena tidak mempunyai anak.

Pada suatu hari, lewatlah dua kakek tua di depan istana itu. Yang satu bertubuh gemuk, yang satu tinggi kurus. Mereka berhenti di depan istana dan bercakap.

“Apakah kau tahu, siapa yang tinggal di istana itu?” tanya Kakek Gemuk.
“Seorang raja dan istrinya. Mereka belum punya anak,” kata Kakek Kurus.
“Ah, andai saja mereka tahu ramuan untuk mempunyai anak. Ratu harus meminum secangkir embun dari kelopak bunga lili, yang dikumpulkan di pagi hari, yang dicampurkan dengan kelopak bunga-bunga kering. Jika Ratu rajin meminumnya, maka dalam setahun, mereka akan punya bayi cantik dan mereka akan bahagia,” kata Kakek Gemuk.
“Aku juga tahu ramuan itu, sahabatku. Tapi, bukankah kebahagiaan dari ramuan itu tidak akan lama. Semua yang lahir dari bunga, akan kembali menjadi bunga.  Ketika waktunya tiba, anak dari ratu itu akan kembali menjadi bunga lagi,” kata Kakek Kurus.
 “Ya, ya… kau betul. Jadi, sebaiknya tak ada yang tahu soal ramuan itu. Ratu pun sebaiknya tidak tahu, karena itu hanya akan membuat dia menjadi sedih,” katak Kakek Gemuk.

 Keduanya lalu meneruskan perjalanan mereka. Kedua kakek itu berpikir tak ada yang mendengar percakapan mereka. Namun, ternyata ada seorang pengemis wanita yang duduk di gerbang kastil mendengarnya. Pengemis itu langsung lari menemui Ratu dan menyampaikan berita itu.

“Kalau Ratu meminum secangkir embun dari kelopak bunga lili yang dikumpul setiap pagi, lalu mencampurkannya dengan bunga-bunga kering, maka Ratu akan melahirkan seorang bayi cantik,” kata pengemis itu para ratu.

Wanita tua itu lalu diam, tidak menceritakan apa yang terjadi selanjutnya dengan ramuan itu. Namun, kalaupun ia menceritakannya, ratu pasti tak ingin mendengarnya lagi. Ratu tampak sangat gembira dan langsung memberi pengemis wanita itu sekantung emas.

Ratu lalu tampak sibuk menyuruh para pelayannya untuk mengambil embun pagi di kelopak bunga lili. Juga menyuruh mereka mengumpulkan bunga-bunga kering.
Nasihat kedua kakek itu ternyata betul-betul terjadi. Setahun kemudian, Ratu melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Karena ia lahir dari bunga lili dan bunga-bunga kering, maka kulitnya seputih lili dan rambutnya sewangi bunga-bunga kering. Ratu menamakannya Putri Lili. Kecantikannya terus bertambah setelah ia tumbuh dewasa. Putri Lili lebih suka tinggal menyepi di taman. Ia menghindari keramaian. Ia merasa lebih nyaman ketika berjalan di antara bunga-bunga. Putri Lili selalu berbicara pada bunga-bunga, dan sepertinya bunga-bunga membalas sapaannya.   Tahun-tahun terus berlalu. Raja Ros dan Ratu berusaha mencari suami yang terbaik untuk putri mereka. Dan karena Putri Lili sangat cantik, banyak pangeran yang ingin melamarnya. Akan tetapi, Putri Lili tak ingin menikah. Ia memang ramah pada semua pangeran. Namun ketika mereka melamarnya, maka sang putri akan berkata,

“Aku tak bisa menikah denganmu, Pangeran. Kau tak akan bahagia jika hidup bersama aku.” PRatu lalu tampak sibuk menyuruh para pelayannya untuk mengambil embun pagi di kelopak bunga lili. Juga menyuruh mereka mengumpulkan bunga-bunga kering.
Nasihat kedua kakek itu ternyata betul-betul terjadi. Setahun kemudian, Ratu melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Karena ia lahir dari bunga lili dan bunga-bunga kering, maka kulitnya seputih lili dan rambutnya sewangi bunga-bunga kering. Ratu menamakannya Putri Lili. Kecantikannya terus bertambah setelah ia tumbuh dewasa. Putri Lili lebih suka tinggal menyepi di taman. Ia menghindari keramaian. Ia merasa lebih nyaman ketika berjalan di antara bunga-bunga. Putri Lili selalu berbicara pada bunga-bunga, dan sepertinya bunga-bunga membalas sapaannya.   Tahun-tahun terus berlalu. Raja Ros dan Ratu berusaha mencari suami yang terbaik untuk putri mereka. Dan karena Putri Lili sangat cantik, banyak pangeran yang ingin melamarnya. Akan tetapi, Putri Lili tak ingin menikah. Ia memang ramah pada semua pangeran. Namun ketika mereka melamarnya, maka sang putri akan berkata,

“Aku tak bisa menikah denganmu, Pangeran. Kau tak akan bahagia jika hidup bersama aku.” P

Putri Lili selalu berkata dengan sedih dan jujur. Semua pangeran percaya padanya dan tidak jadi melamarnya. Akhirnya, tidak ada lagi pangeran yang datang ke kastil Raja Ros dan Ratu. PPutri Lili merasa sangat bahagia, namun sebaliknya, Raja Ros dan Ratu sangat sedih. 

“Apa yang terjadi nanti kalau kita meninggal. Lili akan sendirian di kastil ini tanpa suami,” kata Raja Ros pada istrinya.   Suatu hari, datanglah seorang pangeran dari negeri yang jauh. Namanya Pangeran Dandro. Putri Lili menyambutnya dengan ramah. Mereka bercakap-cakap dan menjadi sangat akrab. Namun, ketika Pangeran Dandro melamarnya, Putri Lili berkata,

“Jangan melamarku, Pangeran. Kau tak akan bahagia jika hidup bersama aku.” 
Putri Lili selalu berkata dengan sedih dan jujur. Semua pangeran percaya padanya dan tidak jadi melamarnya. Akhirnya, tidak ada lagi pangeran yang datang ke kastil Raja Ros dan Ratu. PPutri Lili merasa sangat bahagia, namun sebaliknya, Raja Ros dan Ratu sangat sedih. 

“Apa yang terjadi nanti kalau kita meninggal. Lili akan sendirian di kastil ini tanpa suami,” kata Raja Ros pada istrinya.   Suatu hari, datanglah seorang pangeran dari negeri yang jauh. Namanya Pangeran Dandro. Putri Lili menyambutnya dengan ramah. Mereka bercakap-cakap dan menjadi sangat akrab. Namun, ketika Pangeran Dandro melamarnya, Putri Lili berkata, “Jangan melamarku, Pangeran. Kau tak akan bahagia jika hidup bersama aku.”

Putri Lili berkata dengan tulus seperti pada pangeran lainnya. Biasanya para pangeran langsung percaya pada ucapannya. Namun angeran Dandro tidak menyerah. Ia bertanya,

“Kenapa aku tidak akan bahagia bersamamu?”

“Karena bunga-bunga lili di taman istana pernah berkata padaku. Kata mereka, pada saat aku memakai gaun pernikahanku, waktuku akan tiba. Dan bunga-bunga kering di tanah taman berkata, ketika aku memakai hiasan bunga di kepalaku, maka aku akan berubah menjadi bunga dan tinggal bersama mereka.”

Saat mendengar perkataan Putri Lili, Pangeran Dandro tertawa.

“Aku tidak percaya pada ucapan bunga-bunga itu, Putri,” katanya.

 Putri Lili sangat sedih mendengar ucapan itu. Ia menjawab,

“Kalau kau tak percaya, cobalah. Tapi aku sudah memberimu peringatan. Jadi, mulai sekarang, apa yang harus terjadi, biarlah terjadi!”

Maka, kastil pun mulai dihias untuk persiapan pesta. Betapa gembira Raja Ros dan istrinya. Para penjahit menjahit gaun pernikahan yang terindah untuk Putri Lili. Tukang taman merangkai bunga terindah untuk hiasan di sekeliling kepala sang putri. Di hari pernikahan, para tamu pun berdatangan. Gaun pernikahan dan rangkaian bunga hiasan rambut untuk Putri Lili sudah disiapkan untuk upacara pernikahan. Namun, ketika mereka memakaikan Putri Lili gaun pernikahan, wajah sang putri perlahan berubah menjadi pucat. Putri Lili mulai menangis sedih. Ketika rangkaian bunga hiasan rambut dipasang di kepalanya, utri Lili menutup matanya.

“Waktu kematianku sudah tiba…” bisiknya pada diri sendiri.

Ketika Pangeran Dandro menggandeng tangannya, tiba-tiba ia berubah menjadi bunga putih yang sederhana. Pangeran Dandro menangis sedih karena baru sadar kalau Putri Lili telah berkata yang sebenarnya. Namun semuanya terlambat, karena ia telah kehilangan Putri Lili. Pangeran Dandro akhirnya kembali ke kerajaannya. Bukannya membawa pengantin wanita, ia membawa sekuntum bunga putih yang harum itu. Sampai hari ini, bunga itu mudah ditemukan, karena tumbuh di padang rumput, di ladang, atau di tepi jalan. Orang-orang menamakannya chamomile. Sebetulnya, bunga itu berasal dari Putri Lili yang memakai gaun pengantin putih, dan kepalanya yang berambut keemasan, berhias rangkaian bunga. 


Minggu, 18 Maret 2018

Hewan Ajaib Komedi Putar


Kuda Emas di komedi putar itu telah mengangkat penumpang terakhirnya hari ini. Ia tampak sangat lelah. Pietro duduk di punggungnya, dan memberinya semangat.

“Ayo,  Kuda Emas!”

Pietro tahu kalau Kuda Emas sudah merasa lelah, “Ayo,  Kuda Emas, tinggal satu putaran lagi, lalu kita bisa beristirahat dan tidur!”

Akhirnya permainan komidi putar itu selesai, dan si  Kuda Emas menarik napas panjang karena lelah.

“Horeee… Kita menang!” sorak Pietro, “Terima kasih karena telah berlari cepat,  Kuda Emas!”

“Aku lelah karena telah berlari berputar di tempat yang sama. Aku ingin berpacu di padang rumput seperti kuda-kuda lainnya. Apa kau bisa menolongku, Pak Pietro? Tolong bawa aku ke padang rumput…” pinta Kuda Emas.

Pietro tersipu malu. Belum pernah ada yang memanggilnya ‘Pak Pietro’ sebelumnya. “Panggil saja aku Pietro. Aku akan membantumu semampuku. Apa yang harus aku lakukan agar dapat membantumu?”

“Caranya sangat mudah. Saat malam tiba, datanglah kembali ke sini. Lalu, tolong lepaskan tali-tali yang mengikat komidi putar ini!”

 “Baiklah! Setelah itu, apa yang harus kulakukan?”

“Tunggu dan lihat!” kata si  Kuda Emas penuh rahasia.

 “Kalau kamu pergi ke tempat yang menarik, bolehkah aku ikut?”

“Tentu saja! Kamu boleh naik di punggungku, Pietro. Dan aku akan membawamu dalam petualangan seru!”

 Malam itu, seperti janjinya, Pietro kembali ke tempat komidi putar itu. Ia membuka tali yang mengikat Kuda Emas. Kuda Emas lalu membuka tali-tali yang mengikat teman-temannya.

“Pietro, ayo lompat ke punggungku! Ayo kita pergi!”

 Si  Kuda Emas mencium aroma rumput-rumput kering, dan nyamannya udara di malam hari. Ia mengibaskan surainya yang berwarna emas itu dengan tidak sabar. Pietro segera naik ke punggung Kuda Emas. Kuda Emas pun melesat lari. Hewan-hewan komidi putar lainnya mengikuti dari belakang. Mereka berlari sepanjang jalan dan melewati kincir angin. Di bawah terang rembulan, tampak hewan-hewan berwarna-warni berarak-arakan. Ada Pietro dan  Kuda Emas. Ada si Kambing, Si Kelinci Putih, dan hewan-hewan lainnya. Semua tampak bahagia.  Di tengah perjalanan, mereka melihat sebuah rumah tua.

“Apakah ini rumah penyihir?” tanya  Kuda Emas.

Pietro tertawa. “Bukan!

Yang tinggal di rumah ini bukan penyihir. Ini rumah Bu Selma. Dia pandai membuat selai, minuman, dan makanan manis…” Tak beberapa lama kemudian, Bu Selma membuka pintunya.

Masuklah kawan-kawan!” undangnya.

Rumah Bu Selma adalah sebuah pondok kecil yang sempit. Langit-langit rumahnya rendah. Namun, mereka semua lama-kelamaan terbiasa dengan pondok itu dan menganggap seperti rumah sendiri.

“Siapa yang ingin pancake gandum?” tanya Bu Selma. Mata Pietro berbinar dan terlihat senang mendengar itu.

“Kami akan membantu Bu Selma membuat pancake gandum,” kata Pietro.
“Iya betul, kami akan membantu Bu Selma,” lanjut si  Kuda Emas.

Si Kambing meniup bara api yang mati. Pietro memecahkan telur. Si  Kuda Emas mencampur susu. Si Kelinci Putih menuangkan tepung gandum ke tempat adonan. Semua binatang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing untuk membuat pancake. Adonan pun selesai. Semua binatang melihat si  Kuda Emas memasukan adonan ke panci pancake.

“Tenang, semuanya boleh bergantian” kata si  Kuda Emas.

“Lihat caraku menuangkan adonan ini ya! Kalian harus berhati-hati agar tidak tumpah!” Si  Kuda Emas melempar pancake itu ke langit, hampir mengenai langit-langit pondok itu. Kemudian pancake itu jatuh lagi tepat di tengah panci.

 “Hebaat!” sorak Bu Selma sambil bertepuk tangan.

“ Kuda Emas, tolong ambilkan toples selai di laci itu!” Saat si  Kuda Emas mengambil toples selai, yang lain bergantian membuat pancake. Pietro membuka toples-toples selai itu dan mencelupkan jarinya ke dalamnya. “Rasberi, blueberi, blackberi, dan blackcurrant, semuanya enak!”

“Pak Kambing, tolong buka botol sari buah apel itu!” kata Bu Selma.

Pop! Pop! Sari buah itu mengeluarkan buih. Bu Selma mengambil gelas-gelas untuk menyajikan sari buah buat mereka semua. Setelah makan, Kambing dan hewan-hewan lainnya mengantuk. Mereka tertidur di jerami. Si  Kuda Emas dan si Kelinci Putih berlari-lari di padang rumput di tengah sunyinya malam. Sementara Pietro membantu Bu Selma membersihkan piring-piring dan gelas, serta menghabiskan sisa-sisa selai yang ada. Matahari tampak mulai menyinari langit. Langit mulai berubah menjadi warna pink.

“Saatnya kembali ke komidi putar,” kata si  Kuda Emas.

 “Sampai jumpa,  Kuda Emas! Aku akan sering-sering kembali ke komidi putar!” seru Pietro saat mereka berpisah. 

Sabtu, 17 Maret 2018

Tas Jinjing Polos Warna Warni #3

Tas jinjing warna warni 🌈 akhir pekan dan kucing 🐈

Material: cotton blacu
Size: 38 x 40cm
Tidak ada tambahan furing
Tidak ada resleting/kancing magnet

Harga: Rp. 30.000


Jumat, 16 Maret 2018

Tas Jinjing Polos Warna Warni #2

Tas jinjing warna warni 🌈 akhir pekan dan kucing 🐈

Material: cotton blacu
Size: 38 x 40cm
Tidak ada tambahan furing
Tidak ada resleting/kancing magnet

Harga: Rp. 30.000














 






Kamis, 15 Maret 2018

Tas Jinjing Polos Warna Warni #1

Bahan: blacu halus
Ukuran: 38 x 40cm
Tanpa resleting
Tanpa tambahan furing
Dibuat sesuai pesanan artinya pre-order
Diwarnai secara manual 

Harga: Rp. 30.000 













detail





Paket kecil dari Ibu Peri #2


Memberi kartu ucapan perkenala, gelang sederhana dan permen susu supaya paket lebih manis 








Tulisan ini ditulis dan melintas dipikiran pada waktu sore pukul lima...

Tulisan ini ditulis dan melintas dipikiran pada waktu sore pukul lima, angin sepoy menyelinap di gorden jendela ruang tamu rumah Ibu sambil...