Made by Petite adalah sebuah toko kecil ajaib milik @thepetiteee yang tidak menjual banyak barang namun berkesan untuk mereka yang membelinya, menjual totebag dan dompet makeup juga tempat pensil. Membeli dan berteman dengan baik. Harapan kedepannya semoga Made by Petite bisa semakin besar dan diterima dengan baik
Minggu, 25 Maret 2018
Gadis Chamomile
Di kerajaan Ros tinggalah Raja Ros dan permaisurinya di istana yang indah. Sehari-hari mereka merasa kesepian karena tidak mempunyai anak.
Pada suatu hari, lewatlah dua kakek tua di depan istana itu. Yang satu bertubuh gemuk, yang satu tinggi kurus. Mereka berhenti di depan istana dan bercakap.
“Apakah kau tahu, siapa yang tinggal di istana itu?” tanya Kakek Gemuk.
“Seorang raja dan istrinya. Mereka belum punya anak,” kata Kakek Kurus.
“Ah, andai saja mereka tahu ramuan untuk mempunyai anak. Ratu harus meminum secangkir embun dari kelopak bunga lili, yang dikumpulkan di pagi hari, yang dicampurkan dengan kelopak bunga-bunga kering. Jika Ratu rajin meminumnya, maka dalam setahun, mereka akan punya bayi cantik dan mereka akan bahagia,” kata Kakek Gemuk.
“Aku juga tahu ramuan itu, sahabatku. Tapi, bukankah kebahagiaan dari ramuan itu tidak akan lama. Semua yang lahir dari bunga, akan kembali menjadi bunga. Ketika waktunya tiba, anak dari ratu itu akan kembali menjadi bunga lagi,” kata Kakek Kurus.
“Ya, ya… kau betul. Jadi, sebaiknya tak ada yang tahu soal ramuan itu. Ratu pun sebaiknya tidak tahu, karena itu hanya akan membuat dia menjadi sedih,” katak Kakek Gemuk.
Keduanya lalu meneruskan perjalanan mereka. Kedua kakek itu berpikir tak ada yang mendengar percakapan mereka. Namun, ternyata ada seorang pengemis wanita yang duduk di gerbang kastil mendengarnya. Pengemis itu langsung lari menemui Ratu dan menyampaikan berita itu.
“Kalau Ratu meminum secangkir embun dari kelopak bunga lili yang dikumpul setiap pagi, lalu mencampurkannya dengan bunga-bunga kering, maka Ratu akan melahirkan seorang bayi cantik,” kata pengemis itu para ratu.
Wanita tua itu lalu diam, tidak menceritakan apa yang terjadi selanjutnya dengan ramuan itu. Namun, kalaupun ia menceritakannya, ratu pasti tak ingin mendengarnya lagi. Ratu tampak sangat gembira dan langsung memberi pengemis wanita itu sekantung emas.
Ratu lalu tampak sibuk menyuruh para pelayannya untuk mengambil embun pagi di kelopak bunga lili. Juga menyuruh mereka mengumpulkan bunga-bunga kering.
Nasihat kedua kakek itu ternyata betul-betul terjadi. Setahun kemudian, Ratu melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Karena ia lahir dari bunga lili dan bunga-bunga kering, maka kulitnya seputih lili dan rambutnya sewangi bunga-bunga kering. Ratu menamakannya Putri Lili. Kecantikannya terus bertambah setelah ia tumbuh dewasa. Putri Lili lebih suka tinggal menyepi di taman. Ia menghindari keramaian. Ia merasa lebih nyaman ketika berjalan di antara bunga-bunga. Putri Lili selalu berbicara pada bunga-bunga, dan sepertinya bunga-bunga membalas sapaannya. Tahun-tahun terus berlalu. Raja Ros dan Ratu berusaha mencari suami yang terbaik untuk putri mereka. Dan karena Putri Lili sangat cantik, banyak pangeran yang ingin melamarnya. Akan tetapi, Putri Lili tak ingin menikah. Ia memang ramah pada semua pangeran. Namun ketika mereka melamarnya, maka sang putri akan berkata,
“Aku tak bisa menikah denganmu, Pangeran. Kau tak akan bahagia jika hidup bersama aku.” PRatu lalu tampak sibuk menyuruh para pelayannya untuk mengambil embun pagi di kelopak bunga lili. Juga menyuruh mereka mengumpulkan bunga-bunga kering.
Nasihat kedua kakek itu ternyata betul-betul terjadi. Setahun kemudian, Ratu melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Karena ia lahir dari bunga lili dan bunga-bunga kering, maka kulitnya seputih lili dan rambutnya sewangi bunga-bunga kering. Ratu menamakannya Putri Lili. Kecantikannya terus bertambah setelah ia tumbuh dewasa. Putri Lili lebih suka tinggal menyepi di taman. Ia menghindari keramaian. Ia merasa lebih nyaman ketika berjalan di antara bunga-bunga. Putri Lili selalu berbicara pada bunga-bunga, dan sepertinya bunga-bunga membalas sapaannya. Tahun-tahun terus berlalu. Raja Ros dan Ratu berusaha mencari suami yang terbaik untuk putri mereka. Dan karena Putri Lili sangat cantik, banyak pangeran yang ingin melamarnya. Akan tetapi, Putri Lili tak ingin menikah. Ia memang ramah pada semua pangeran. Namun ketika mereka melamarnya, maka sang putri akan berkata,
“Aku tak bisa menikah denganmu, Pangeran. Kau tak akan bahagia jika hidup bersama aku.” P
Putri Lili selalu berkata dengan sedih dan jujur. Semua pangeran percaya padanya dan tidak jadi melamarnya. Akhirnya, tidak ada lagi pangeran yang datang ke kastil Raja Ros dan Ratu. PPutri Lili merasa sangat bahagia, namun sebaliknya, Raja Ros dan Ratu sangat sedih.
“Apa yang terjadi nanti kalau kita meninggal. Lili akan sendirian di kastil ini tanpa suami,” kata Raja Ros pada istrinya. Suatu hari, datanglah seorang pangeran dari negeri yang jauh. Namanya Pangeran Dandro. Putri Lili menyambutnya dengan ramah. Mereka bercakap-cakap dan menjadi sangat akrab. Namun, ketika Pangeran Dandro melamarnya, Putri Lili berkata,
“Jangan melamarku, Pangeran. Kau tak akan bahagia jika hidup bersama aku.”
Putri Lili selalu berkata dengan sedih dan jujur. Semua pangeran percaya padanya dan tidak jadi melamarnya. Akhirnya, tidak ada lagi pangeran yang datang ke kastil Raja Ros dan Ratu. PPutri Lili merasa sangat bahagia, namun sebaliknya, Raja Ros dan Ratu sangat sedih.
“Apa yang terjadi nanti kalau kita meninggal. Lili akan sendirian di kastil ini tanpa suami,” kata Raja Ros pada istrinya. Suatu hari, datanglah seorang pangeran dari negeri yang jauh. Namanya Pangeran Dandro. Putri Lili menyambutnya dengan ramah. Mereka bercakap-cakap dan menjadi sangat akrab. Namun, ketika Pangeran Dandro melamarnya, Putri Lili berkata, “Jangan melamarku, Pangeran. Kau tak akan bahagia jika hidup bersama aku.”
Putri Lili berkata dengan tulus seperti pada pangeran lainnya. Biasanya para pangeran langsung percaya pada ucapannya. Namun angeran Dandro tidak menyerah. Ia bertanya,
“Kenapa aku tidak akan bahagia bersamamu?”
“Karena bunga-bunga lili di taman istana pernah berkata padaku. Kata mereka, pada saat aku memakai gaun pernikahanku, waktuku akan tiba. Dan bunga-bunga kering di tanah taman berkata, ketika aku memakai hiasan bunga di kepalaku, maka aku akan berubah menjadi bunga dan tinggal bersama mereka.”
Saat mendengar perkataan Putri Lili, Pangeran Dandro tertawa.
“Aku tidak percaya pada ucapan bunga-bunga itu, Putri,” katanya.
Putri Lili sangat sedih mendengar ucapan itu. Ia menjawab,
“Kalau kau tak percaya, cobalah. Tapi aku sudah memberimu peringatan. Jadi, mulai sekarang, apa yang harus terjadi, biarlah terjadi!”
Maka, kastil pun mulai dihias untuk persiapan pesta. Betapa gembira Raja Ros dan istrinya. Para penjahit menjahit gaun pernikahan yang terindah untuk Putri Lili. Tukang taman merangkai bunga terindah untuk hiasan di sekeliling kepala sang putri. Di hari pernikahan, para tamu pun berdatangan. Gaun pernikahan dan rangkaian bunga hiasan rambut untuk Putri Lili sudah disiapkan untuk upacara pernikahan. Namun, ketika mereka memakaikan Putri Lili gaun pernikahan, wajah sang putri perlahan berubah menjadi pucat. Putri Lili mulai menangis sedih. Ketika rangkaian bunga hiasan rambut dipasang di kepalanya, utri Lili menutup matanya.
“Waktu kematianku sudah tiba…” bisiknya pada diri sendiri.
Ketika Pangeran Dandro menggandeng tangannya, tiba-tiba ia berubah menjadi bunga putih yang sederhana. Pangeran Dandro menangis sedih karena baru sadar kalau Putri Lili telah berkata yang sebenarnya. Namun semuanya terlambat, karena ia telah kehilangan Putri Lili. Pangeran Dandro akhirnya kembali ke kerajaannya. Bukannya membawa pengantin wanita, ia membawa sekuntum bunga putih yang harum itu. Sampai hari ini, bunga itu mudah ditemukan, karena tumbuh di padang rumput, di ladang, atau di tepi jalan. Orang-orang menamakannya chamomile. Sebetulnya, bunga itu berasal dari Putri Lili yang memakai gaun pengantin putih, dan kepalanya yang berambut keemasan, berhias rangkaian bunga.
Minggu, 18 Maret 2018
Hewan Ajaib Komedi Putar
Kuda Emas di komedi putar itu telah mengangkat penumpang terakhirnya hari ini. Ia tampak sangat lelah. Pietro duduk di punggungnya, dan memberinya semangat.
“Ayo, Kuda Emas!”
Pietro tahu kalau Kuda Emas sudah merasa lelah, “Ayo, Kuda Emas, tinggal satu putaran lagi, lalu kita bisa beristirahat dan tidur!”
Akhirnya permainan komidi putar itu selesai, dan si Kuda Emas menarik napas panjang karena lelah.
“Horeee… Kita menang!” sorak Pietro, “Terima kasih karena telah berlari cepat, Kuda Emas!”
“Aku lelah karena telah berlari berputar di tempat yang sama. Aku ingin berpacu di padang rumput seperti kuda-kuda lainnya. Apa kau bisa menolongku, Pak Pietro? Tolong bawa aku ke padang rumput…” pinta Kuda Emas.
Pietro tersipu malu. Belum pernah ada yang memanggilnya ‘Pak Pietro’ sebelumnya. “Panggil saja aku Pietro. Aku akan membantumu semampuku. Apa yang harus aku lakukan agar dapat membantumu?”
“Caranya sangat mudah. Saat malam tiba, datanglah kembali ke sini. Lalu, tolong lepaskan tali-tali yang mengikat komidi putar ini!”
“Baiklah! Setelah itu, apa yang harus kulakukan?”
“Tunggu dan lihat!” kata si Kuda Emas penuh rahasia.
“Kalau kamu pergi ke tempat yang menarik, bolehkah aku ikut?”
“Tentu saja! Kamu boleh naik di punggungku, Pietro. Dan aku akan membawamu dalam petualangan seru!”
Malam itu, seperti janjinya, Pietro kembali ke tempat komidi putar itu. Ia membuka tali yang mengikat Kuda Emas. Kuda Emas lalu membuka tali-tali yang mengikat teman-temannya.
“Pietro, ayo lompat ke punggungku! Ayo kita pergi!”
Si Kuda Emas mencium aroma rumput-rumput kering, dan nyamannya udara di malam hari. Ia mengibaskan surainya yang berwarna emas itu dengan tidak sabar. Pietro segera naik ke punggung Kuda Emas. Kuda Emas pun melesat lari. Hewan-hewan komidi putar lainnya mengikuti dari belakang. Mereka berlari sepanjang jalan dan melewati kincir angin. Di bawah terang rembulan, tampak hewan-hewan berwarna-warni berarak-arakan. Ada Pietro dan Kuda Emas. Ada si Kambing, Si Kelinci Putih, dan hewan-hewan lainnya. Semua tampak bahagia. Di tengah perjalanan, mereka melihat sebuah rumah tua.
“Apakah ini rumah penyihir?” tanya Kuda Emas.
Pietro tertawa. “Bukan!
Yang tinggal di rumah ini bukan penyihir. Ini rumah Bu Selma. Dia pandai membuat selai, minuman, dan makanan manis…” Tak beberapa lama kemudian, Bu Selma membuka pintunya.
Masuklah kawan-kawan!” undangnya.
Rumah Bu Selma adalah sebuah pondok kecil yang sempit. Langit-langit rumahnya rendah. Namun, mereka semua lama-kelamaan terbiasa dengan pondok itu dan menganggap seperti rumah sendiri.
“Siapa yang ingin pancake gandum?” tanya Bu Selma. Mata Pietro berbinar dan terlihat senang mendengar itu.
“Kami akan membantu Bu Selma membuat pancake gandum,” kata Pietro.
Si Kambing meniup bara api yang mati. Pietro memecahkan telur. Si Kuda Emas mencampur susu. Si Kelinci Putih menuangkan tepung gandum ke tempat adonan. Semua binatang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing untuk membuat pancake. Adonan pun selesai. Semua binatang melihat si Kuda Emas memasukan adonan ke panci pancake.
“Tenang, semuanya boleh bergantian” kata si Kuda Emas.
“Lihat caraku menuangkan adonan ini ya! Kalian harus berhati-hati agar tidak tumpah!” Si Kuda Emas melempar pancake itu ke langit, hampir mengenai langit-langit pondok itu. Kemudian pancake itu jatuh lagi tepat di tengah panci.
“Hebaat!” sorak Bu Selma sambil bertepuk tangan.
“ Kuda Emas, tolong ambilkan toples selai di laci itu!” Saat si Kuda Emas mengambil toples selai, yang lain bergantian membuat pancake. Pietro membuka toples-toples selai itu dan mencelupkan jarinya ke dalamnya. “Rasberi, blueberi, blackberi, dan blackcurrant, semuanya enak!”
“Pak Kambing, tolong buka botol sari buah apel itu!” kata Bu Selma.
Pop! Pop! Sari buah itu mengeluarkan buih. Bu Selma mengambil gelas-gelas untuk menyajikan sari buah buat mereka semua. Setelah makan, Kambing dan hewan-hewan lainnya mengantuk. Mereka tertidur di jerami. Si Kuda Emas dan si Kelinci Putih berlari-lari di padang rumput di tengah sunyinya malam. Sementara Pietro membantu Bu Selma membersihkan piring-piring dan gelas, serta menghabiskan sisa-sisa selai yang ada. Matahari tampak mulai menyinari langit. Langit mulai berubah menjadi warna pink.
“Saatnya kembali ke komidi putar,” kata si Kuda Emas.
“Sampai jumpa, Kuda Emas! Aku akan sering-sering kembali ke komidi putar!” seru Pietro saat mereka berpisah.
Sabtu, 17 Maret 2018
Tas Jinjing Polos Warna Warni #3
Material: cotton blacu
Size: 38 x 40cm
Tidak ada tambahan furing
Tidak ada resleting/kancing magnet
Harga: Rp. 30.000
Jumat, 16 Maret 2018
Tas Jinjing Polos Warna Warni #2
Kamis, 15 Maret 2018
Tas Jinjing Polos Warna Warni #1
Totebag Custom
Minggu, 11 Maret 2018
Gelang Pertemanan
Gelang persahabatan buatan tangan ajaib Ibu peri kesayangan gelang dekoratif diberikan sebagai simbol pertemanan, dibuat dari benang bordir atau benang macrame dengan bubuhan cinta kasih.
Diberi gratis setiap pembelian tas jinjing, kotak pensil atau dompet makeup.
Sederhana dengan simpul tengah ,jika suatu hari nanti kita saling bertemu karena urusan lapak atau berpapasan, aku akan memberikan satu untukmu dan kita akan berteman dengan baik
Diberi gratis setiap pembelian tas jinjing, kotak pensil atau dompet makeup.
Paket kecil dari Ibu Peri #1
Ibu peri telah menyelesaikan sebagian paket kecil untuk kalian yang menyayangi bumi dengan ramah dan manis. Kami saling bertemu, menyapa, memberi, menyapa dan berteman baik. Terimakasih untuk kalian yang sudah mengadopsi beberapa tas jinjing dari Ibu peri, maaf ya kalau waktu pengerjaannya terlalu lama, pesanana menumpuk dan aku mengerjakan sendirian, lelah tapi menyenangkan. Karma baik untuk kalian, semesta memberkati. Terimakasih
Peri Bunga Matahari Ungu
![]() |
| Nyctophilia |
Langit sore Negeri Katalaya sedang cerah-cerahnya. Peri-peri kecil serbuk bunga sedang bermain di taman dandelion. Kupu-kupu sayap emas pun tak kalah riang menari di antara peri-peri kecil itu.
Sementara di Hutan Matahari yang tak jauh dari taman dandelion, Dori si kelinci bermata biru sedang menemani Peri Noya, peri tanduk rusa, memetik beberapa bunga matahari di situ. Setiap sore Peri Noya pasti ke tempat ini untuk memetik beberapa batang bunga matahari untuk disimpan di istana pohonnya.
“Lihatlah bunga-bunga matahari ini, Dori. Cerah sekali, seperti matahari pukul lima sore di sini,” kata Peri Noya riang.
“Iya, seperti dirimu yang selalu cerah ceria, Peri!” Dori melompat-lompat mengeliling Peri Noya.
Peri dengan tanduk rusa yang sangat indah di kepalanya itu tersenyum sambil mengangguk. Ujung tanduknya yang berwarna merah bersinar ditempa sinar mentari. Rambut ungu kemerahannya dikepang satu. Peri berumur empat belas tahun itu sangat cantik kala tersenyum.
“Ayo kita kembali ke rumah pohon, Dori. Tak sabar telaga matahari di kamarku mendapat bunga segar lagi.” Peri Noya melayang di atas hamparan bunga-bunga matahari yang memenuhi hutan.
Dori pun mengikuti teman perinya.
“Aku ingin bunga matahari ungu itu! Di mana kita bisa menemukannya?” rengek Peri Noya.
Ibunya hanya tersenyum bijak sambil mengusap rambut ungu kemerahannya. Baru saja dia bercerita tentang riwayat bunga matahari berwarna ungu. Crrita yang secara turun temurun diceritakan di negeri ini. Tentang sebuah mitos bunga matahari berwarna ungu. Bahwa di salah satu sudut entah di mana, ada tumbuh bunga matahari yang berwarna ungu yang ajaib. Tentang bunga yang akan membawakan kebahagiaan di hidupmu. Peri Noya yang notabene adalah penggemar bunga matahari sangat ingin memilikinya.
Peri Noya lalu berlari secepat rusa menuju Hutan Matahari. Dia berlari menyusuri tiap sudut hutan untuk mencari bunga matahari ungu tersebut. Peri remaja itu ingin membuktikan kebenaran cerita ibunya.
“Di mana bunga mataharinya?” Dia bertanya pada dirinya sendiri. Langit hampir gelap dan dia sama sekali tak menemukan apa-apa.
“Bukankah semua ini adalah bunga matahari?” Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan peri yang larinya cepat itu.
Sesosok peri laki-laki bersayap perak. Dia memegang beberapa tangkai bunga matahari, berjalan mendekat ke arah Peri Noya.
“Aku mencari bunga matahari berwarna ungu,” jawabnya polos.
“Memangnya ada bunga matahari berwarna ungu? Bukannya bunga matahari berwarna kuning?” Peri bersayap perak itu tersenyum. Lagi-lagi mitos aneh yang dia temukan di negari baru yang dia kunjungi.
Lalu Peri Noya bercerita tentang bunga matahari ungu tersebut.
Peri sayap perak mengaku seorang peri pengembara dari negeri jauh. Negeri Katalaya adalah negeri terakhir yang ia kunjungi. Setelah ini dia akan kembali ke negerinya. Setiap negeri yang ia kunjungi selalu ada mitos-mitos aneh yang tak pernah ia percayai, termasuk tentang bunga matahari ungu ini.
“Aku sudah mengembara ke banyak tempat, tapi tak pernah menemukan bunga ajaib itu. Mungkinkah itu hanya karangan saja untuk menyenangkan hati peri-peri kecil sepertimu?”
Peri Noya menggeleng keras. “Aku yakin bunga itu benar-benar ada! Aku yakin sekali!” Dia hampir menangis.
Peri sayap perak ingin tertawa, tapi takut menyakiti hati peri cantik di depannya.
“Baiklah. Aku akan membantumu mencari bunga itu. Maukah kau menunggu sedikit lebih lama, Peri?”
Tanduk rusa Peri Noya sekejap bersinar lebih terang dari biasanya. “Aku akan menunggumu! Pasti!”
Nyatanya hingga enam tahun kemudian, Peri Noya bahkan tak pernah menyentuh bunga yang tiap malam selalu diangan-angankannya. Peri Sayap Perak tak pernah datang setelah pertemuan terakhir mereka di hutan.
“Sudahlah, Peri. Tidak usah menunggu lagi. Anggap saja mitos bunga itu tak pernah ada.” Dori meringkuk di pangkuan peri.
“Tapi aku telah membangun mimpi-mimpi suatu saat dapat menikah dengan peri lelaki itu dan hidup bahagia dengan taman bunga matahari ungu kami.”
Dori lalu menatap peri yang sudah beranjak dewasa itu. Sejak dulu dia meyakini bahwa teman perinya itu telah jatuh cinta pada peri lelaki yang memberinya mimpi-mimpi tentang bunga matahari ungu. Sejak dulu pun dia yakin bahwa teman perinya ini hanya diberikan harapan, tanpa sempat menikmati kebaagiaan dari istana harapan yang ia bangun. Tapi, apa yang bisa kau lakukan dengan peri yang sedang jatuh cinta?
“Tahukah kau, Peri? Bahwa bunga matahari selamanya akan berwarna kuning, seperti matahari di atas sana. Cerah seperti senyumanmu.”
Peri Noya menunduk sedih. Dia membayangkan wajah lelaki itu. Dia selalu bermimpi menikah dengannya saat kelak dia membawakan bunga matahari ungu itu. Detik ini sepertinya dia harus mengubur dalam harapannya. Lelaki itu tak akan pernah datang, sama seperti bunga matahari ungu yang sebenarnya tak pernah ada.
Dia lalu teringat perkataan ibunya yang sering membacakan cerita sejak ia masih kecil.
“Tidak semua cerita harus berakhir bahagia, Nak, bahkan di negeri dongeng sekalipun ….”
Dompet Makeup
Tas atau dompet makeup, dan tempat pensil bisa digunakan untuk membawa alat - alat makeup dan pensilsupaya tidak hilang.Dibuat sesuai pesanan artinya pre-order
Dompet Makeup
Bahan: blacu halus dan kanvas twill
Ukuran: 20 x 20
Resleting dari Amco
Tidak ada furing
Muat banyak perintilan
Harga: Rp. 30.000
Dompet Makeup
Bahan: blacu halus dan kanvas twill
Ukuran: 20 x 20
Resleting dari Amco
Tidak ada furing
Muat banyak perintilan
Harga: Rp. 30.000
![]() |
| pastel aztec pattern |
![]() |
![]() |
| detail bahan dan resleting |
![]() |
| guitar series |
![]() |
| love pattern |
![]() |
| cactus pattern |
![]() |
![]() |
| tropical series |
![]() |
| pizza pattern |
![]() |
| worried girls |
![]() | |||||
| lips pattern |
Langganan:
Postingan (Atom)
Tulisan ini ditulis dan melintas dipikiran pada waktu sore pukul lima...
Tulisan ini ditulis dan melintas dipikiran pada waktu sore pukul lima, angin sepoy menyelinap di gorden jendela ruang tamu rumah Ibu sambil...
-
Nyctophilia Langit sore Negeri Katalaya sedang cerah-cerahnya. Peri-peri kecil serbuk bunga sedang bermain di taman dandelion. Kup...
-
Tempat pensil dari bahan kanvas, muat banyak printilan dan awet. Kalau kotor bisa dicuci hehehe Bahan: kanvas twill tebal Ukuran: 25 x...
-
Tas atau dompet makeup, dan tempat pensil bisa digunakan untuk membawa alat - alat makeup dan pensilsupaya tidak hilang.Dibuat sesuai pesan...






















































