Minggu, 11 Maret 2018

Peri Bunga Matahari Ungu



Nyctophilia


Langit sore Negeri Katalaya sedang cerah-cerahnya. Peri-peri kecil serbuk bunga sedang bermain di taman dandelion. Kupu-kupu sayap emas pun tak kalah riang menari di antara peri-peri kecil itu.
Sementara di Hutan Matahari yang tak jauh dari taman dandelion, Dori si kelinci bermata biru sedang menemani Peri Noya, peri tanduk rusa, memetik beberapa bunga matahari di situ. Setiap sore Peri Noya pasti ke tempat ini untuk memetik beberapa batang bunga matahari untuk disimpan di istana pohonnya.

“Lihatlah bunga-bunga matahari ini, Dori. Cerah sekali, seperti matahari pukul lima sore di sini,” kata Peri Noya riang.

“Iya, seperti dirimu yang selalu cerah ceria, Peri!” Dori melompat-lompat mengeliling Peri Noya.
Peri dengan tanduk rusa yang sangat indah di kepalanya itu tersenyum sambil mengangguk. Ujung tanduknya yang berwarna merah bersinar ditempa sinar mentari. Rambut ungu kemerahannya dikepang satu. Peri berumur empat belas tahun itu sangat cantik kala tersenyum.

“Ayo kita kembali ke rumah pohon, Dori. Tak sabar telaga matahari di kamarku mendapat bunga segar lagi.” Peri Noya melayang di atas hamparan bunga-bunga matahari yang memenuhi hutan.
Dori pun mengikuti teman perinya.

“Aku ingin bunga matahari ungu itu! Di mana kita bisa menemukannya?” rengek Peri Noya.

Ibunya hanya tersenyum bijak sambil mengusap rambut ungu kemerahannya. Baru saja dia bercerita tentang riwayat bunga matahari berwarna ungu. Crrita yang secara turun temurun diceritakan di negeri ini. Tentang sebuah mitos bunga matahari berwarna ungu. Bahwa di salah satu sudut entah di mana, ada tumbuh bunga matahari yang berwarna ungu yang ajaib. Tentang bunga yang akan membawakan kebahagiaan di hidupmu. Peri Noya yang notabene adalah penggemar bunga matahari sangat ingin memilikinya.
Peri Noya lalu berlari secepat rusa menuju Hutan Matahari. Dia berlari menyusuri tiap sudut hutan untuk mencari bunga matahari ungu tersebut. Peri remaja itu ingin membuktikan kebenaran cerita ibunya.

“Di mana bunga mataharinya?” Dia bertanya pada dirinya sendiri. Langit hampir gelap dan dia sama sekali tak menemukan apa-apa.

“Bukankah semua ini adalah bunga matahari?” Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan peri yang larinya cepat itu.

Sesosok peri laki-laki bersayap perak. Dia memegang beberapa tangkai bunga matahari, berjalan mendekat ke arah Peri Noya.

“Aku mencari bunga matahari berwarna ungu,” jawabnya polos.

“Memangnya ada bunga matahari berwarna ungu? Bukannya bunga matahari berwarna kuning?” Peri bersayap perak itu tersenyum. Lagi-lagi mitos aneh yang dia temukan di negari baru yang dia kunjungi.

Lalu Peri Noya bercerita tentang bunga matahari ungu tersebut.

Peri sayap perak mengaku seorang peri pengembara dari negeri jauh. Negeri Katalaya adalah negeri terakhir yang ia kunjungi. Setelah ini dia akan kembali ke negerinya. Setiap negeri yang ia kunjungi selalu ada mitos-mitos aneh yang tak pernah ia percayai, termasuk tentang bunga matahari ungu ini.

“Aku sudah mengembara ke banyak tempat, tapi tak pernah menemukan bunga ajaib itu. Mungkinkah itu hanya karangan saja untuk menyenangkan hati peri-peri kecil sepertimu?”
Peri Noya menggeleng keras. “Aku yakin bunga itu benar-benar ada! Aku yakin sekali!” Dia hampir menangis.

Peri sayap perak ingin tertawa, tapi takut menyakiti hati peri cantik di depannya.

“Baiklah. Aku akan membantumu mencari bunga itu. Maukah kau menunggu sedikit lebih lama, Peri?”

Tanduk rusa Peri Noya sekejap bersinar lebih terang dari biasanya. “Aku akan menunggumu! Pasti!”

Nyatanya hingga enam tahun kemudian, Peri Noya bahkan tak pernah menyentuh bunga yang tiap malam selalu diangan-angankannya. Peri Sayap Perak tak pernah datang setelah pertemuan terakhir mereka di hutan.

“Sudahlah, Peri. Tidak usah menunggu lagi. Anggap saja mitos bunga itu tak pernah ada.” Dori meringkuk di pangkuan peri.

“Tapi aku telah membangun mimpi-mimpi suatu saat dapat menikah dengan peri lelaki itu dan hidup bahagia dengan taman bunga matahari ungu kami.”

Dori lalu menatap peri yang sudah beranjak dewasa itu. Sejak dulu dia meyakini bahwa teman perinya itu telah jatuh cinta pada peri lelaki yang memberinya mimpi-mimpi tentang bunga matahari ungu. Sejak dulu pun dia yakin bahwa teman perinya ini hanya diberikan harapan, tanpa sempat menikmati kebaagiaan dari istana harapan yang ia bangun. Tapi, apa yang bisa kau lakukan dengan peri yang sedang jatuh cinta?

“Tahukah kau, Peri? Bahwa bunga matahari selamanya akan berwarna kuning, seperti matahari di atas sana. Cerah seperti senyumanmu.”

Peri Noya menunduk sedih. Dia membayangkan wajah lelaki itu. Dia selalu bermimpi menikah dengannya saat kelak dia membawakan bunga matahari ungu itu. Detik ini sepertinya dia harus mengubur dalam harapannya. Lelaki itu tak akan pernah datang, sama seperti bunga matahari ungu yang sebenarnya tak pernah ada.

Dia lalu teringat perkataan ibunya yang sering membacakan cerita sejak ia masih kecil.

“Tidak semua cerita harus berakhir bahagia, Nak, bahkan di negeri dongeng sekalipun ….”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulisan ini ditulis dan melintas dipikiran pada waktu sore pukul lima...

Tulisan ini ditulis dan melintas dipikiran pada waktu sore pukul lima, angin sepoy menyelinap di gorden jendela ruang tamu rumah Ibu sambil...